Entri yang Diunggulkan

ARTIKEL "TERKONTAMINASI ZAMAN"

TERKONTAMINASI ZAMAN Oleh: Iis Ihsani “Kemajuan tidaklah mungkin tanpa perubahan, dan orang yang tidak mengubah pikirannya takkan mampu...

Tampilkan postingan dengan label My Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2016

Cerpen Love Story of High School

Created by: IIS IHSANI

"hari ini hari pertama masuk kelas XII nih kereeen, waaah ga kerasa banget udah mau udahan aja nih SMA." (di kamar, ngomong sendiri di depan kaca)
"Nikiiiiiiii....." terdengar suara seorang ibu yang memanggil anaknya dari sudut ruang makan. "ayoooo cepat sarapan, nanti kamu telat!" tambah seorang ibu tadi. dia adalah Iriana, ibu dari Nikita Agustina.
"duh baweeel, (dengan nada pelan) iyaaaa maa bentar lagi...." timpal Niki dari dalam kamar.

*ruangmakan*
"aduuuh ki kebiasaan banget sih kalo mau berangkat sekolah bukannya cepetan ini malah santai-santai aja," sapa ibu iriana saat niki menghampirinya.
(sedikit manyun) "selamat pagi mamah (mencium pipi mamanya), pagi-pagi udah ngomel terus nanti ga cantik lagi loooo... maklum lah aku kan cewek mah jadi yaa wajar dong  dandannya lama biar cantik kayak mama." jawab niki setengah nyengir.
 "iya mama tahu, emang udah jadi kebiasaan kamu itu telat, susah dibangunin, tapi coba deeh pikirin sekarang hari apa. apa kamu yakin ga akan kenapa-kenapa kalo hari ini telat masuk sekolah?" menatap Niki dengan serius.
"hm,, engga Ma lagian kan udah biasa." jawab Niki santai sambil melahap roti yang menjadi menu sarapannya pagi ini.
"ya ampuuun Ma, aku lupaaa, ini kan hari pertama aku masuk sekolah daaan itu artinya ruang kelas baruu, kalau aku telat berartiiiiiiiiiiiiiiii...... (menaruh sisa rotinya, dan langsung minum), Mamaa, Niki berangkat dulu Maaa, Assalammualaikuuuuum." mengambil tas dengan terburu-buru dan lari menuju halte.
"Eh Niki, ini sarapannya belum habis." (geleng-geleng kepala)

-di sekolah-
"aduuuuh, untung gue ga telaaat,, tapi tetep aja... duh pasti gue dapet bangku belakang pojok deh kalo gini ceritanyaaa. siaal, bisa jadi sasaran guru killer deh nih gue."
(masuk ruang kelas)
"ya ampun, ga ada yang gue kenal dekeeet nih(ucap Niki dalam hati)."
"Heiiii!" suara perempuan mengagetkan niki dari belakang, Salsa.
"hei, elu Sa. lu di kelas ini juga?" sapa Niki kepada Salsa.
(diem seolah mikir) "menurut loooo? yaiyalah gue di kelas ini, kalo engga ngapain coba gue ada di sini."
"udaaah gausah bingung, sini simpen tas lu di sini. lu duduk sama gue. gue sengaja nempatin ini buat lo, karena gue tau dari Amy kalo lo di kelas ini juga." tambah Salsa kepada Niki sambil mengajak Niki duduk di bangku barisan ke tiga dari depan.
"baiiiikkk banget sih luuu , sa. jadi terharu gue." (pasang muka sok tersanjung)
"lebaaaay deh." jawab Salsa.

*tingtongtingtong* bel masuk berbunyi. semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing.

"Assalammualaikum" sapa seorang guru yang baru saja masuk kelas niki.
"Waalaikumsallam." jawab semua siswa dengan serentak.

"eh Sa, itu wali kelas kitaa?" tanya Niki kepada Salsa.
"iya Ki." jawab salsa singkat.
"baik anak-anak, selamat datang di Kelas XII, kelas dimana kalian harus berjuang untuk memulai kehidupan di masa depan, tidak ada lagi waktunya untuk kalian bersantai-santai, kita harus serius." sambutan awal dari Wali Kelas Niki, Bapak Kuncoro. "baik, sekarang Bapak ingin tahu dulu nama-nama kalian agar Bapak lebih mengenal kalian semua."

(satu persatu memperkenalkan diri)
"Nama saya Salsa Nur Rinjani dari Cibinong." perkenalan Salsa.
"Perkenalkan nama saya Nikita Agustina, panggil saja saya Niki, saya dari Cibinong."
dan ternyata di awal masuk Niki di kelas XII, ada seseorang yang memusatkan perhatiannya, dia adalah seorang pria yang duduk tepat di samping bangkunyaa..
"Perkenalkan nama saya Nata Pratama, saya berasal dari Cisarua."
yaa... entah apa yang dirasakan Niki, Niki merasa ada rasa yang berbeda dalam hatinya saat melihat Nata.
"Sa, saa. si Nata murid baru?" tanya Niki dengan gaya kepo kepada Salsa.
"Bukan ki, dia bareng masuknya sama kita kok, dia kan dulunya sebelahan sama kita kelasnya, ki. masa lo ga tau sih." tukas salsa.
"oh, gue kira dia murid baru," (sambil terus memperhatikan Nata) "tapi kok gue belum pernah liat dia sebelumnya yaa, sa." tambah Niki layaknya wartawan.
"ya gue gatau, mungkin karena dia pendiam ki, ga banyak tingkah. ga kayak yang sebelahnya tuuuh." jawab Salsa sambil memberi isyarat kepada teman sebangku Nata, Reno.
(Niki menoleh pada Reno, seorang cowok gemuk yang duduk satu bangku dengan Nata) "haha parah luu, dia mah emang terkenal heboh, mana ada orang yang ga kenal sama dia di satu sekolah ini. Eh tapi lucu deh ngeliat mereka, yang satu kurus yang satu gemuk, yang satu alim yang satu lagi alimnya kelewatan." tukas Niki setengah tertawa.
"kan saling melengkapi ki, hahaha."
(Niki dan Salsa menghentikan pembicaraannya karena Bapak Wali Kelas sudah memulai pelajarannya, PKn)
(Di dalam kelas Niki masih sering menatap Nata diam-diam, ia merasa penasaran dengan sosok Nata)

*tiba saat pulang sekolah*
-di rumah-
"Assalammualaikum." ucap Niki sambil membuka pintu rumahnya dan masuk.
"Kok sepi banget sih, Maa... Mamaaa..." teriak Niki di dalam rumah. "pada kemana sih"
(Mengapa kau lebih percaya bahwa, ku wanita yang mudah jatuh cinta....) terdengar suara lagu Mytha Lestari-Aku Bukan Dia yang menjadi nada dering handphone Niki.
Niki langsung mengambil handphone nya dari saku seragamnya yang belum sempat ia ganti.
"Mama..." (sambil menatap handphone) "Assalammualaikum Iya Maa, ada apa? Mama ada di mana sih, di rumah sepi banget?" tanya Niki kepadanya Ibunya.
"waalaikumsallam, Ini Mama mau ngasih tahu, Mama lupa ga kabarin kamu. Mama lagi belanja sayang, oh iya kalau mau makan siang, mama udah siapin ruang makan ya. Hati-hati di rumah yaa, kalau mau keluar kunci pintunya." pesan mama dalam percakapan telepon dengan Niki.
"pantesaaan... iya mama. mama juga hati-hati yaa cepet pulang" jawab Niki.
"iyaa niki. Yaudah udah dulu yaa sayang. Assalammualaikum" timpal Ibu Iriana kepada anaknya dalam telepon.
"iya ma, waalaikumsallam." balas Niki dan langsung mematikan teleponnya.

*menuju ke kamar*
-di kamar- sambil mendengarkan lagu Mytha Lestari-Jadi yang Pertama.
(Niki setengah melamun)
"Ih guee masih penasaran sama si Nata." kata Niki berbicara sendiri. "Tapi kalo diliat-liat dia cute ya, lucu." tambah Niki.
"ya ampun kenapa jadi kepikiran si Nata sih. ah Niki Nikiiiiiiii.... (sambil mencubit pipinya sendiri) Maunyaa aku jadi yang pertama, dan cuma akulah yang bisa, bisa membuat dia tergoda dia meminta-mintaku berikan cintaaa." lanjut Niki dengan bernyanyi.
*keesokan harinya di sekolah
(Niki tidak lagi datang terlambat lagi ke sekolah, hari ini dia datang lebih awal dari biasanya)
"Assalammualaikum." ucap Nata sambil masuk ke dalam kelas.
"Nataa.." (ucap Niki dalam hati) "mm... waalaikumsallam." jawab Niki.
Nata melukiskan senyuman di wajahnya untuk Niki.
Niki langsung memalingkan wajahnya ke arah lain setelah ia melihat senyuman Nata.
"dia senyum sama guuueee,,, aaaaa." (ucap Niki dalam hati setengah senang)
(beberapa waktu berlalu, Niki masih penasaran dengan sosok Nata. Sepertinya Niki mengagumi Nata, namun ia tak berani menyapa ataupun mengungkapkan perasaannya kepada Nata. Terkadang dia memiliki niatan untuk bercerita kepada sahabatnya, Salsa. namun niki ragu karena ia merasa malu. Niki merasa gengsi namun di kelas Niki sering mencuri-curi pandangannya kepada seorang pria yang duduk di sebelah kanan bangkunya itu, Nata)

*suatu hari* -di sekolah- saat itu jam istirahat dan Niki tidak pergi ke kantin, dia duduk sendirian di kelas karena Salsa pergi ke kantin untuk makan.
(Niki terus memandangi handphone nya, tidak lain lagi ya karena dia sedang online facebook)
"Heiii, Niki." tiba-tiba ada suara yang mengejutkan Niki dan dia mengenal suara itu.
seketika Niki mengalihkan pandangannya dari handphone yang sedang di pegangnya ke arah depan dan ternyataa "Hei, Nata. (setengah gugup Niki menyahut sapaan Nata yang sudah duduk di depan bangkunya sambil menghadap ke arahnya), ada apa?" 
"hm,, engga apa-apa sih. lagi apa ki, serius banget kayaknya." tanya Nata sembari tersenyum.
"ini...... lagi baca-baca artikel aja di internet, Nat." jawab Niki dengan sedikit canggung menjawab pertanyaan Nata, karena sebenarnya dia tidak sedang membaca artikel melainkan online facebook.
"memang membaca artikel tentang apa, Nik?" tanya Nata lagi kepada Niki.
"hahaha aku lagi facebook-an Nat," timpal Niki dengan nada malu-malu tapi berusaha ga terlihat memalukan :D (dasar ya Niki)
"oh iya Nik, kamu suka film apa?" tanya Nata kepada Niki. "mmm,, tergantung filmnya sih kalo aku sih." jawab Niki dengan percaya diri. "oh gituu ya, kalau aku sih senang nonton film. ya tapi bukan film Indonesia tentunya." ucap Nata seolah bercerita kepada Niki. dan Niki hanya menjawabnya dengan senyuman.
"eh eh Sa, lo jangan duduk di bangku lo dulu." ucap Ringgo kepada Salsa yang mau masuk ke dalam kelas sepulang dari kantin. "ih emang ada apa sih, Go?" tanya Salsa penasaran kepada Ringgo yang menghadangnya untuk masuk ke dalam kelas dan melarangnya untuk duduk.
"tuuuh liaaat, si Nata lagi ngobrol sama si Niki. hahahaha" jawab Ringgo sambil tertawa.
"ciyeeeeee Nikiiiiiiiiiiiiii...." teriak Salsa kepada Niki di depan kelas.
Niki tersentak kaget mendengar suara Salsa memanggil namanya, "ih apa sih lo Saaaaa?" tanya Niki heran.
"aduuuuuuuh Niki pura-pura polos." tukas Ringgo kepada Niki. "kok pura-pura polos, emangnya gue kenapa, go?" tanya Niki. datang Reno dari luar kelas,, "eciyeeeee Nata pedekate nih sama Niki." ucap reno menambah rusuh suasana. "Apa Ren, kok ciye sih" jawab Nata polos. 
"ciye ciye ciyeeeeee." ucap Salsa, Ringgo, dan Reno bersamaan lalu serentak mereka bertiga tertawa.
"duuuh Nat, kamu mending balik ke tempat kamu deh. mereka rese emang." ucap Niki kepada Nata setengah kesal.
"iya Niki." balas Nata sembari tersenyum dan kembali duduk ke tempat duduknya.
"rumpiiiiii banget kalian tuh ih, nyebelin deeh." kata Niki kepada tiga kawannya itu sambil memasang muka cemberut.
"hahahahahaaaaa." jawab mereka serentak.
"eh eh ki, tadi si Nata habis ngapain? nembak lu yaaa?" tanya Salsa dengan gaya layaknya wartawan. "apaan sih sa, engga. cuma ngajak ngobrol biasa aja kok." jawab niki. "ah gue ga percaya, ayoo dong Niki cerita samaaa gueee." paksa Salsa kepada Niki. "dasar yaa kepo banget sih Sa. tadi tuh dia cuma nanyain , gue suka nonton film ga gitu.." ucap Niki. "terus terus?" tanya Salsa penasaran , "yaa gue jawab tergantung filmnya sa, kan lo tau sendiri gue ga terlalu suka nonton film. ngebosenin kalo filmnya ga gue suka." cerita Niki. "ooohhhhh hahahaha, gue kira dia habis nembak lo." ledek Salsa kepada Niki. "ih apaan sih saaa, aneh-aneh aja, ya engga laaah." jawab Niki malu-malu.
"eh tapi Nik,kayaknya Nata tuh suka deh sama lo. soalnya gue sering banget liat dia lagi merhatiin lo." ucap Salsa. "duh udah deh Saa ah, ga usah begitu. mungkin dia lihat yang lain, lihatin lo mungkin." timpal Niki. "engga Nikiiiiiii, dia itu lihatin lo, bisa dlihat dari matanya kiiiiiii." tukas Salsa gemas.
"ah yaudah deh terserah lo sa" jawab Niki.

*di rumah*
seperti biasa, Niki sering sekali mengisi waktu santainya dengan bernyanyi dan mendengarkan musik. saat itu Niki sedang mendengarkan musik lewat handphone nya menggunakan headset sambil mengerjakan tugas PAI dari sekolah. tiba-tiba nada suara pesan masuk berbunyi...
(dari: +628********* pesan: Niki kalau tugas PAI itu disuruh apa?)
"nomor siapa ini" tanya Niki dalam hati, lalu dia langsung mengetik pesan balasan kepada Nomor tersebut.
(kepada: +628********* pesan: Suruh nulis surat *blabla* maaf ini nomor siapa ya?)
tak lama terdengar kembali suara nada pesan masuk
"Nata" ucap Niki sembari membaca pesan tersebut yang seketika membuat bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
namun Niki tidak membalas kembali pesan dari Nata.

(semakin hari Niki semakin percaya jikalau dirinya memang suka kepada Nata dan Nata pun menunjukkan sikap kalau dia menyukai Niki, Niki tidak pernah bercerita kepada siapapun jika dia menyukai Nata dan lama kelamaan mereka dekat karena Nata sering mengajak ngobrol Niki baik secara langsung, pesan sms ataupun chat facebook dan akhirnya Nata tahu sebagian dari cerita hidup Niki, begitupun sebaliknya)

"eh Sa, Niki tuh pernah disakitin mantannya ya?" tanya Nata kepada Salsa ketika di Sekolah saat istirahat dan kebetulan Niki ga ada d kelas.
"iyaaa, loh kok lo tahu si Nat?" tanya Salsa heran.
"Niki cerita sama aku Sa." jawab Nata.
"ciyeee, sering ngobrol sama Niki nih." ledek Salsa kepada Nata.
"ya begitu laah Sa." jawab Nata.
"iya dia pernah disakitin sama mantannya, Nat padahal dia udah setia. tapi dia udah punya pacar lagi kok Nat." ucap Salsa.
"oh Niki udah punya pacar Sa? siapa?" tanya Nata penasaran dan nada sedikit pelan.
"kepo deh haha, lo tanya aja saa Nikinya." jawab Salsa.
(terlihat Niki datang dari luar menuju kelas)
"yaudah makasih ya Sa." ucap Nata dan ia langsung duduk di bangkunya.

*beberapa hari berlalu* Nata dan Niki semakin dekat, dan akhirnya Nata menanyakan kepada Niki perihal yang pernah dia tanyakan kepada Salsa ketika di sekolah. namun Nata sedikit berbeda kepada Niki. Nata jarang senyum saat bertemu Niki dan sedikit jutek kepada Niki. 

-di Musholla sekolah seusai pulang sekolah-
"Saaaa... gue mau cerita" ucap Niki kepada Salsa setengah lesu.
"kenapa lo Nik" tanya Salsa khawatir.
"Gue  mau cerita jujur sama lo saaa.." kata Niki sambil menunduk.
"iya Nik, lo ada masalah tah ki? cerita aja sama gue barangkali gue bisa bantu lo." tanya Salsa lagi
"gue sayang sama Nata , Saaaaa." ucap Niki sambil memeluk Salsa. "tapi lo tau kaaaaaan gue..." tambah Niki tanpa meneruskan ucapannya.
"jadi selama ini lo suka sama Nata , Nik" tanya Salsa sambil tersenyum. "Nata juga kayaknya suka juga sama lo Nik. dia pernah nanyain lo ke gue." tambah Salsa.
"nanyain gue? dia nanya apa ke lo Sa?" tanya Niki sambil melepas pelukannya dari Salsa.
"Iya dia nanyain mantan lo dan terus gue ceritain aja, dan gue juga bilang kalo lo udah lupain mantan lo dan lo juga udah punya cowok." jawab Salsa.
"iyaa saaa, dan dia jadi sedkit menghindar dari gue." ucap Niki sambil menangis
"Dia suka sama lo, gue yakin. soalnya gue pernah tanya sama dia. apa dia suka sama lo, dan dia jawabnya 'dia kan udah ada yang punya, aku gamau merusak kebahagiaan dia dan merebut dia dari kekasihnya' nah dari kata-kata dia aja udah bisa kebaca Nik kalo dia suka sama lo tapi dia gamau dibilang sebagai pengganggu hubungan orang."cerita Salsa kepada Niki.
"ya Tuhaaaaaan. ini adalah kenyataan yang sulit Sa." ucap Niki kepada Salsa sambil menangis. "tapi kenapa dia ga jujur sama gue Sa? gue mau kok putusin pacar gue sekarang saa, gue ga sayang sama pacar gue sa, gue sayangnya sama Nata." tambah Niki dan terus menangis.
"yaudah Nik, sekarang lo tenang dulu ya. gue akan berusaha bantu lo yakinin Nata, Nik. dia terlihat sedikit kecewa sama keadaan ini, Nik" ucap Salsa kepada sahabatnya sambil mengusap air mata Niki.
"makasih ya Sa." ucap Niki kepada Salsa.

(beberapa waktu berlalu, Niki memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Pacarnya, Miko)

-di sekolah-
"Saaaa... gue udah putus sama kak Miko." bisik Niki kepada Salsa.
"serius looo? bener-bener nekad loo" jawab Salsa.
"ya mau gimana lagi Sa, gue sayangnya sama Nata, dari awal ketemu dia gue udah suka sama dia,Sa. di mata gue, dia itu sosok yang ga akan terganti dan kayaknya limited edition hahahaha." timpal Niki kepada Salsa. "teruuss si Nata udah tahu lo putus sama kak Miko?" tanya Salsa.
"beluum sih.. nanti ajalah gue kasih taunya Sa" jawab Niki.
(beberapa saat setelah Niki putus dengan Kak Miko, dia semakin dekat dengan Nata. dan akhirnya Nata pun tahu jika Niki sudah Putus dengan Kak Miko namun Nata belum mengungkapkan secara jujur perasaannya sehingga membuat Niki merasa sedikit ragu kepadanya)
hingga pada suatu saat Nata mengungkapkan perasaannya kepada Niki walau hanya lewat pesan sms, namun belum ada kejelasan hubungan mereka berdua. (baca: 23 november 2013)

sampai pada waktu dimana Nata mengungkapkan perasaannya kepada Niki secara langsung , di kelas. (read: 12 Desember 2013)
"Nik, aku tau kamu sayang sama aku.." ucap Nata menggantung. "daan..."
"dan apa Nat?" tanya Niki penasaran. 
"aku juga sayang sama kamu, maaf harus menunggu lama. aku hanya ingin meyakinkan hatiku apakah aku benar-benar jatuh cinta." ungkap Nata kepada Niki.
"memang kamu jatuh cinta sama siapa Nat?" tanya Niki sambil tersenyum kepada Nata.
"aku jatuh cinta sama kamu Nik." jawab Nata sembari menatap dan membalas senyuman Niki.
"lalu?" tanya Niki
"tapi Nik, aku ga akan menjadikan kamu sebagai pacar aku." jelas Nata kepada Niki dan sontak membuat Niki kaget mendengarnya.
"maksudnya Nat?" tanya Niki dengan heran.
"yaaa, aku ga akan menjadikan kamu sebagai pacar aku, tapi orang yang akan ada dalam hidup aku menemani aku mulai detik ini, hingga selamanya. aku inginkan kamu menjadi masa depanku Nik, menjadi istriku kelak." ungkap Nata kepada Niki.
"kamu serius Nat?" tanya niki terharu.
"iya Nik, aku serius. kamu adalah orang pertama dan terakhir di hidup aku Nik."
dan akhirnya mereka bersama selamanya, hidup dalam sebuah kebahagiaan, walau terkadang badai datang menyapa namun mereka percaya "badai pasti berlalu"
-II-

Minggu, 21 Februari 2016

CERPEN CINTA YANG KANDAS

Created by: IIS IHSANI

Suatu hari, di ruang kelas 8B tepatnya salah satu kelas yang terdapat di SMP Negeri 1 terdengar sangat gaduh dan ramai karena tidak ada guru.
(tiba-tiba)
“Assalammualaikum.” Terdengar suara seorang guru masuk ke dalam kelas 8B dan spontan memecah kegaduhan yang ada di kelas tersebut.
“Waalaikumsallam.” Jawab anak-anak serentak.
“Anak-anak, kalian akan mempunyai teman baru. Dia pindahan dari SMP Negeri 2.” Papar Ibu Tina, wali kelas 8B.
“Waah.. siapa bu siapa?” Tanya anak-anak penasaran.
“Perempuan atau laki-laki bu.” Tanya salah satu anak, Rino.
“Laki-laki, Rino.” Jawab Ibu guru.
“Yaahh.. aku kira perempuan, Bu.” Ucap Rino setengah nyengir.
“Huuu.” Sorak seisi kelas kepada Rino.
“Murid barunya ganteng enggak, Bu?” Tanya Mira sedikit centil.
“Hm.. kamu ini.” Jawab Ibu Tina sambil menghela nafas.
(Ibu Tina menghampiri pintu dan memanggil murid tersebut untuk masuk dan memperkenalkan diri)
“Perkenalkan, nama saya Sammy Aprilio, panggil saja saya Sam. Saya pindahan dari SMP Negeri 2. Saya tinggal di Cikarang. Senang mengenal kalian.” Tukas Sammy sambil tersenyum kepada teman-teman barunya.
“Hai Sam, nama aku Mira. Salam kenal ya.” Ucap Mira sambil tersenyum.
“Iya, salam kenal juga ya Mira.” Jawab Sammy.
“Sammy, kamu duduk di sana dengan Edo.” Ucap Ibu guru kepada Sammy sambil menunjuk bangku bagian pojok sebelah timur.
“Iya, Bu.” Jawab Sammy, lalu ia langsung duduk dengan Edo.
“Oke anak-anak, kita mulai saja pelajaran kali ini.” Ucap Ibu Tina sambil membuka pelajaran Bahasa Indonesia.
“Eh, Ra.” Ujar Adel berbisik sambil menyenggol Tira. “Si Sammy tuh saudara aku tahu.” Tambah Adelia, teman sebangku Tira.
“Oh ya?” Jawab Tira dengan nada tak percaya. “Tapi kok enggak mirip sama kamu ya?” Ucap Tira setengah meledek Adel.
“Ah kamu ini, namanya juga saudara masa harus mirip kan aku sama dia bukan kembar.” Tukas Adel sedikit kesal.
“Hahahaha.” Jawab Tira sambil tertawa.
*tengtengteng* Suara lonceng tanda istirahat berbunyi, semua siswa terlihat menampakan wajah berseri bahagia.
(Tiba-tiba)
“Adeeeeel.” Terdengar suara seorang anak laki-laki menyapa Adel.
Adel menoleh ke arah suara tersebut, “Eh, Sammy.” Jawab Adelia.
“Del, aku pinjam jadwal pelajaran dong.” Ucap Sammy dengan mata sedikit melirik ke arah Tira yang sedang duduk di samping Adel sambil melemparkan senyum.
“Iya boleh, nanti sore kamu ke rumahku saja, Sam.” Ujar Adel.
“Iya, Del.” Ucap Sammy. “Aku boleh duduk bareng kalian” tambah Sammy kepada Adel dan Tira.
“Oh iya boleh.” Jawab Tira dan Adel.
“Hey.. Nama kamu siapa?” Tanya Sammy sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Tira sambil tersenyum.
“Namaku Tira Shidqia.” Jawab Tira sambil membalas uluran tangan Sammy yang meminta berkenalan kepadanya.
“Senang berkenalan denganmu, Tira.” Ucap Sammy kepada Tira.
“Iya, Sam sama-sama.” Tukas Tira.
“Kalian istirahat enggak ke kantin, memang enggak lapar?” Tanya Sammy kepada Tira dan Adel.
“Emang kenapa, kamu mau traktir kita makan memangnya?” Ucap Adel bercanda.
“Memang kalian mau?” Tanya Sammy lagi.
“Ya mau dong, hahaha.” Jawab Adel.
“Yaudah ayo ke kantin, aku traktir.” Ajak Sammy yang sedari tadi memperhatikan Tira.
“Serius kamu, Sam? Pasti ada maunya ya traktir kita?” Tanya Adel curiga.
“Ya ampun, Del. Fikirannya negatif terus sih kalau sama aku.” Jawab Sammy membela diri.
“Habis biasanya kamu begitu.” Ledek Adel kepada Sammy.
“Kali ini enggak, Del. Aku ikhlas traktir kalian.” Ucap Sammy serius. “Ayo.” Tambah Sammy sambil berdiri dan mengajak Tira dan Adel menuju kantin.
(di kantin)
“Tir, kamu mau makan apa?” Tanya Sammy.
“Aku.. aku sih gimana kalian aja.” Jawab Tira sambil tersenyum.
“Aduh.. Tira aja nih yang ditawarin?” Tukas Adel dengan nada sedikit kesal dan meledek. “Wah, jangan jangan..” tambah Adel sambil nyengir.
“Ih apaan sih, Del.” Jawab Tira dan Sammy serentak sehingga membuat mereka saling berpandangan.
“Tuh kan bisa barengan gitu, ciee..” Ledek Adel kepada Tira dan Sammy.
“Ih Adel...” Ucap Tira dengan gemas sambil mencubit paha Adel.
Adel hanya tertawa melihat sahabatnya salah tingkah dan mukanya memerah.
(Di rumah, Tira sedang asyik mendengarkan musik kesukaannya. Lagu Fatin Shidqia Lubis-Dia Dia Dia tiba-tiba terdengar suara nada tanda pesan masuk di handphone-nya)

Dari: 082123******
Tira J
 
“Siapa ini yang sms?” Ucap Tira saat membaca pesan masuk di handphone-nya dengan nomor yang tidak tercantum di kontaknya.
                                       

Lalu Tira mengetikkan balasan kepada nomor tersebut “Maaf ini siapa?”
Beberapa waktu kemudian, terdengar suara tanda pesan masuk balasan dari nomor yang tidak dikenal tadi.
“Sammy.” Ucap Tira saat membaca pesan masuk di handphone-nya.
Setelah saling mengobrol satu sama lain lewat handphone akhirnya mereka semakin dekat begitupun ketika di sekolah.
(Pada suatu hari ketika di sekolah, tepatnya pulang sekolah)
“Ra..” Ucap Sammy kepada Tira.
“Iya, Sam. Ada apa?” Tanya Tira.
“Jangan pulang dulu, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Ujar Sammy dengan nada serius.
“Ngomong apa, Sam?” Tukas Tira penasaran.
Tiba-tiba Sammy langsung menggandeng tangan Tira untuk masuk ke dalam kelas.
(Di kelas)
“Tira..” Sapa Sammy dengan lembut.
“Iyaa.” Jawab Tira singkat.
“Ra, kamu mau enggak jadi pacar aku?” Ungkap Sammy sambil memegang tangan Tira.
“Mmmm... gimana ya?” Jawab Tira menggantung. “Maaf aku gabisa, Sam.” Tambah Tira dengan pelan.
“Kenapa, Ra?” Tanya Sammy dengan muka sedikit lesu dan sedih.
“Maksudnya.... Aku enggak bisa nolak.” Jawab Tira sambil tersenyum menatap muka Sammy.
“Tiraa... Kamu Serius?” Jawab Sammy terkejut sedikit tidak percaya.
“Iyaa.. Aku serius Sammy.” Papar Tira kepada Sammy sambil tersenyum manis.
“Makasih ya Tira, aku janji akan setia sama kamu.” Ucap Sammy sambil mencium tangan kanan Tira.
“Iya, Sam. Aku percaya kok.” Timpal Tira dengan hati senang.
(Semakin hari hubungan Tira dan Sammy semakin dekat, hingga tiba pada hari ulang tahun Tira ke 15 tahun, pada seminggu sebelum hari ulang tahun Tira, Sammy menjauhi dan sedikit cuek kepada Tira)
“Ra, nanti sepulang sekolah ke rumahku yuk.” Ucap Adel kepada Tira.
“Memang mau apa, Del?” Tanya Tira kepada Adel.
“Main laah, memang kamu gamau main ke rumah aku.” Timpal Adel dengan nada sedikit kesal.
“Enggak, bukannya gitu. Aku hanya sedang enggak enak hati hari ini, Del. Sammy sikapnya aneh, Del akhir-akhir ini.” Papar Tira kepada Adel.
“Mungkin dia lagi banyak pikiran atau masalah, Ra. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, mending kamu hilangin penat dengan main ke rumah aku nanti siang, gimana?” Ajak Adel kepada Tira sembari menghibur Tira.
“Tapi Raa.... hari ini kan..” Ucap Tira kepada Adel, namun saat Tira belum selesai ngomong, Adel langsung memotong pembicaraannya.
“Hm.. yaudah ya Ra, aku mau pulang dulu. Aku duluan ya.” Tukas Adel dengan terburu-buru dan langsung meninggalkan Tira.
“Iya, Del. Hati-hati ya.” Jawab Tira.
(Siang harinya, Tira mengunjungi rumah Adel. Setibanya di rumah Adel)
“Assalammualaikum, Adeeel.. Adeeel..” Panggil Tira sambil mengetuk pintu rumah Adel yang nampak sepi bagai tak berpenghuni.
“Ih, Adel kemana sih? Katanya menyuruh aku ke rumahnya, tapi di rumahnya enggak ada siapa-siapa.” Gerutu Tira dengan nada kesal. “Aku telpon saja.” Ujar Tira sambil mengambil handphone di saku celananya.
“Duh, kok enggak dijawab sih.” Ucap Tira sambil memandangi layar handphone-nya.
Namun Tira masih penasaran dan akhirnya membuka pintu rumah Adel. Seketika lampu menyala dan ruang tamu Adel dihiasi banyak balon dan hiasan indah.
“Happy Birthdaaaaaaaay..” Teriak semua yang ada di dalam ruang tamu rumah Adelia.
Tira tidak menyangka bahwa dia akan diberi kejutan oleh semua teman sekelasnya. Namun di dalam ruangan itu Tira seperti mencari-cari sosok yang ia dambakan ada di situ.
“Hey.. kamu nyari apa sih?” Tanya Adel mengagetkan Tira.
“E..e..e.. Enggak kok, Del. Makasih ya kejutannya. Makasih semuanya.” Ungkap Tira kepada semua temannya.
(Tiba-tiba)
“Hey.. selamat ulang tahun sayang.” Terdengar suara lembut di telinga Tira sambil membawa Cake dan membuat Tira kaget.
Tira menoleh ke arah suara, “Sammy... aku kira kamu lupa sama hari ulang tahun aku.” Ucap Tira manja kepada Sammy.
“Hehe.. mana mungkin aku lupa. Maafkan aku sudah membuatmu kesal akhir-akhir ini, itu merupakan salah satu strategi kejutan hari ulang tahunmu.” Papar Sammy sambil mencubit pipi Tira.
“Kamu ini...” Timpal Tira mencubit tangan kanan Sammy.
(Beberapa hari berlalu, Tira menangkap ada yang aneh dari sikap Sammy, ya dia berubah drastis. Dia jarang memberi kabar dan kurang perhatian lagi kepada Tira)
“Sam, ada apa dengan kamu? Kok sepertinya akhir-akhir ini kamu berubah, sikap kamu aneh. Kamu jarang memberiku kabar, kamu enggak perhatian lagi sama aku.” Tanya Tira dengan serius menatap Sammy.
“Ra.. sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Aku minta maaf.” Ungkap Sammy sambil menunduk.
“Kenapa, Sam?” Tanya Tira dengan mata berkaca-kaca.
“Papaku pindah tugas ke luar kota, Ra. Dan aku ga bisa menjanjikan aku akan kembali ke kota ini lagi. Jadi lebih baik kita putus saja. Sekali lagi maafkan aku, Ra. Aku akan selalu mengingat kamu, kamu wanita pertama yang mengisi hati aku. Jangan lupain aku ya, Ra.” Ungkap Sammy sambil mengusap air mata di pipi Tira.
“Jika memang itu yang terbaik untuk kita, aku terima. Aku ga akan lupain kamu, kamu juga jangan lupain aku ya.” Ucap Tira sambil terisak tak mampu menahan tangisnya.
“Iya, Tira. Semoga kita bisa berjumpa lagi.” Timpal Sammy.
“Iya, Sam. Aku juga ingin fokus dulu ke masa depan dan cita-citaku. Kalo kita jodoh, kita pasti bertemu lagi kok.” Jawab Tira sambil mencoba meredam tangisnya.
“Iya, Tira. Aku sayang kamu.” Ucap Sammy sambil mencium kening Tira dan memeluknya.

-Selesai-

CERPEN CAMPBER STORY

Created by: IIS IHSANI

Pada suatu hari, di salah satu sekolah favorit tepatnya di SMA Negeri 1, akan mengadakan Campber yakni Camping bersama dalam rangka acara tahunan yang diadakan oleh sekolah tersebut.
“Assalammualaikum, anak-anak minggu depan kita akan melaksanakan program tahunan sekolah kita yaitu Campber atau Camping bersama yang akan dilangsungkan di Bumi Perkemahan Cicerem.” Papar seorang guru yang menjadi Pembina Pramuka di SMA Negeri 1.
“Rain, kamu mau ikut acara Campbernya?” Bisik teman sebangku Rain, Andien Karamoy.
“Hm.. Aku enggak tahu. Kamu mau ikut, Ndien?” Ucap Rain.
“Ikut aja yuk, pasti seru acaranya.” Ajak Andien kepada Rain.
“Oke deh, nanti aku tanya Mama dan Papa aku dulu ya.” Jawab Rain sambil tersenyum.
(Di rumah)
“Assalammualaikum.. Mama.. Papa...” Sapa Rain kepada orang tuanya sambil membuka pintu rumahnya.
“Waalaikumsallam, sayang. Ada apa, Rain?” Tanya Mama kepada Rain dengan penuh rasa penasaran.
“Ma.. Rain boleh ga ikut acara Campber di sekolah?” Tukas Rain.
“Memang kamu mau Campber dimana, Rain?” Tanya Mama kepada anaknya.
“Di bumi perkemahan Cicerem, Ma.” Jawab Rain. “Boleh kan, Ma?” Tanya Rain kepada Mamanya.
“Memang teman-teman banyak yang ikut enggak?” Tanya Mama lagi.
“Banyak, Ma.” Ujar Rain.
“Yasudah boleh sayang, asal kamu di sana hati-hati ya.” Ucap Mama sambil tersenyum kepada Rain.
“Makasih ya, Ma.” Ungkap Rain sambil memeluk Mamanya.

(Satu hari sebelum Campber dilaksanakan. Di sekolah)
“Ndien, aku diizinin ikut Campber sama Mama.” Ujar Rain senang.
“Aku juga, Rain. Nanti kita bareng ya kelompoknya, Ndien.” Ucap Andien sambil tersenyum.
“Oke deh.” Jawab Rain singkat.
“Kamu udah mempersiapkan barang bawaan untuk Campber belum, Rain?” Tanya Andien kepada Rain.
“Belum, Ndien. Mungkin nanti malam.” Jawab Rain.
(Di rumah, suatu sore Rain online membuka akun facebook-nya lalu Rain melihat teman obrolan dan pandangan dia langsung tertuju pada salah satu nama akun facebook)
“Fahri Firdaus..” Ucap Rain sambil memandangi layar handphone-nya yang sedang online.
Rain mencoba menghubungi Fahri melalui pesan facebook, kemudian Rain mengetikkan pesannya melalui keypad handphone-nya,

To: Fahri Firdaus (Online)
Ciye.. besok Campber ya? Kamu mau ikut engga Campber-nya?
 
 




“Duuuh... kira-kira Fahri balas pesan aku enggak ya?” Ucap Rain ragu. “Hm, sudahlah aku coba saja.” Tambah Rain berbicara sendiri sambil mengirimkan pesan yang sudah diketiknya kepada Fahri.
Setelah pesan tersebut terkirim kepada Fahri, Rain tak henti-hentinya online di akun facebook-nya dengan harapan bahwa Fahri akan membalas pesannya.
(Beberapa saat kemudian)
“Ada pesan nih, dari siapa ya?” Ucap Rain sedikit deg-degan.

From: Fahri Firdaus
Iya ciye, besok Campber. Pasti ikut dong.
 
Ternyata pesan tersebut dari Fahri dan sontak membuat hati Rain senang.


Rain dan Fahri terus chatting di facebook dan akhirnya mereka semakin dekat.
(Keesokan harinya, di Sekolah)
“Hei, Rain..” Sapa seorang laki-laki kepada Rain.
“Hei, Fahri.” Jawab Rain sambil tersenyum. “Ciyee, hari ini Campber ya.” Ucap Fahri setengah tertawa.
“Iya, Fahri.” Tukas Rain kepada Fahri.
(Beberapa saat kemudian)
“Assalammualaikum.. anak-anak sekarang kita akan berangkat dan melaksanakan Campber. Kalian sudah siap?” Papar seorang guru yang menjadi pembina pramuka, Pak Suryanto.
“Walaikumsallam. Siap, Pak.” Jawab anak-anak serentak penuh semangat.
“Sebelum berangkat, marilah kita berdoa. Berdoa.. mulai!” Ajak Pak Suryanto kepada semua siswa. “Selesai.” Ucap Pak Surya setelah beberapa saat.
“Silakan kalian naik ke mobil sesuai dengan regu masing-masing.” Tambah Pak Suryanto.
“Iya pak.” Timpal anak-anak serentak.
(di Bumi Perkemahan)
“Duh.. jalannya curam banget.” Ucap Rain sambil memandang jalan menuju bumi perkemahan yang berada di atas bukit.
“Iya, Rain. Barang bawaannya banyak banget lagi.” Timpal Andien yang ada di sampingnya.
“Dasar ya perempuan, ribet. Campber aja bawaannya banyak banget kayak orang mau pindahan segala dibawa.” Terdengar suara Fahri dengan nada meledek Rain dan Andien.
“Suka-suka dong, kan persediaan. Biar semuanya aman terkendali.” Tukas Andien kepada Fahri.
“Fahri, kamu kan laki-laki. Tolong dong bantuin kita bawa separuh barang bawaan kita ke atas. Kita kan perempuan” Bujuk Rain kepada Fahri.
“Enak aja, enggak mau ah berat. Suruh siapa kamu membawa barang bawaan banyak-banyak.” Sanggah Fahri dengan sedikit meledek lalu pergi menuju bumi perkemahan.
“Dasar nyebeliiiiiin...” Ucap Rain dan Andien bersamaan.
(Setibanya di atas bukit tepatnya di tempat bumi perkemahan Rain duduk beristirahat)
“Beraaat yaa? Kasian. Kayaknya kecapean banget.” Terdengar suara Fahri yang sedang tertawa sambil meledek Rain.
“Ih apaan sih Fahri, kamu jahat banget tertawa di atas penderitaan orang lain, bukannya bantuin malah ngeledekin.” Ungkap Rain dengan nada sedikit kesal.
“Maaf deh, sini aku bantuin.” Ucap Fahri sambil tersenyum.
“Bantuin apa? Telat lah.. udah ada di atas juga.” Ujar Rain ketus.
“Haha.. Rain Rain.. Lucu ya kamu ini.” Ungkap Fahri sambil tertawa dan pergi meninggalkan Rain.
(Semakin hari Rain semakin kepikiran dengan Fahri, karena sikapnya yang aneh kepada Rain)
“Fahri mana yaaa?” Tanya Rain di dalam hati sambil menoleh-noleh mencari Fahri.
“Eh.. eh.. Si Fahri sakit ya? Kasian banget. Dia kayaknya kecapean deh.” Ucap Tia yang sedang mengobrol dengan temannya, Gita.
“Iya, Ti. Kasian, kamu bawain makanan dan obat sana ke tenda darurat untuk Fahri.” Ujar Gita kepada Tia.
Rain tidak sengaja mendengar obrolan Gita dan Tia.
“Tia sepertinya menyukai Fahri.” Ucap Rain di dalam hati.
Sempat terbersit dalam hati Rain untuk mengunjungi Fahri namun dia takut bertemu dengan Gita ataupun Tia saat Rain mengunjungi Fahri.
“Apa aku kunjungi Fahri aja ya, tapi kalau ketemu Gita dan Tia pasti ribet urusannya.” Lagi-lagi Rain berbicara di dalam hati.
“Heii..” Suara Andien mengagetkan Rain yang sedari tadi sedang melamun.
“Eh.. Andien.” Jawab Rain.
“Kok kamu melamun sih?” Tanya Andien sambil menatap Rain.
“E..e.. engga kok, Ndien. Habis dari mana kamu baru kelihatan?” Tanya Rain.
“Itu habis dari tenda darurat.” Jawab Andien singkat.
“Te.. tenda darurat?” Tanya Rain penasaran.
“Iya, Rain. Eh, tadi kamu ditanyain tuh sama Fahri.” Tukas Andien kepada Rain.
“Hah? Fahri? Dia nanyain aku?” Timpal Rain kepada Andien seolah tidak percaya.
“Iya.. dia nanyain kamu. Kamu enggak mau nengokkin dia?” Tanya Andien.
“Mmm.. mau sih, tapii...” Ungkap Rain menggantung.
“Tapi apa Rain?” Tanya Andien heran.
“Kayaknya Tia suka sama Fahri deh, Ndien.” Ujar Rain.
“Tia?” Tanya Andien.
“Iya, Ndien. Tadi aku denger Gita dan Tia ngobrol. Aku juga pengen nengokkin Fahri hanya saja aku takut mereka lihat aku lalu marah dan bakalan ribet urusannya” Ungkap Rain.
“Ih enggak usah mikirin mereka, biarin aja toh lagian juga Fahri sendiri yang nanyain kamu. Kayaknya dia suka deh Rain sama kamu.” Papar Andien kepada Rain serius.
“Masa sih, Ndien?” Tanya Rain tidak percaya.
“Ya aku juga enggak tahu sih iya atau enggaknya.” Tukas Andien. “Yasudah yuk ke tenda darurat.” Ajak Andien kepada Rain sambil menggandeng tangan Rain.
(Di tenda darurat)
“Fahri, kamu sakit” tanya Rain kepada Fahri.
“Ya begitulah, Rain. Badanku kurang bisa beradaptasi, di sini dingin banget.” Papar Fahri kepada Rain. “Kamu kemana aja sih Rain, aku nungguin kamu ke sini dari tadi.” Ungkap Fahri.
“Aku baru tahu kamu sakit kata Andien.” Ucap Rain kepada Fahri.
“Aku butuh kamu tahuuu.” Ungkap Fahri kepada Rain sambil tersenyum.
“Kamu butuh aku, kenapa?” Tanya Rain penasaran.
“Yaa aku butuh kamu, Rain. Kamu itu sahabatku.” Timpal Fahri serius.
“Sahabat kamu? Sejak kapan aku jadi sahabatmu?” Tanya Rain polos.
“Sejak detik ini, kamu adalah sahabatku. Memang kamu enggak mau jadi sahabat aku?” Tanya Fahri kepada Rain.
“Iya mau kok Fahri.” Timpal Rain kepada Fahri, yang sebenarnya menginginkan hubungannya dengan Fahri tidak sebatas sahabat namun lebih. Tapi apalah daya, Rain tak mungkin mengungkapkan isi hatinya kepada Fahri.
“Aku sebenarnya sayang sama kamu, Rain. Namun aku enggak mau pacaran sama kamu, tapi aku janji pada diriku sendiri, aku akan datang dan menjadi masa depan kamu, Rain.” Ucap Fahri dalam hati.
“Terima kasih ya, Rain. Sahabatku.” Tukas Fahri kepada Rain setengah tertawa.

-Selesai- (Egois itu ketika kamu menyimpan rasamu sendiri *Rain*)